Sambut Kurikulum Baru : Guru Wajib Mengikuti Pelatihan

Kurikulum 2013

Menjelang pelaksanaan Kurikulum 2013 pada 15 Juli, banyak sekolah yang meminta ikut melaksanakan kurikulum baru. Padahal, sekolah tersebut tidak ditunjuk menjadi sekolah sasaran pelaksanaan Kurikulum 2013ang pelaksanaan Kurikulum 2013 pada 15 Juli, banyak sekolah yang meminta ikut melaksanakan kurikulum baru. Padahal, sekolah tersebut tidak ditunjuk menjadi sekolah sasaran pelaksanaan Kurikulum 2013. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, keinginan itu tidak serta-merta bisa dipenuhi. ”Syarat pelaksanaan Kurikulum 2013 ini hanya satu, guru harus dilatih terlebih dahulu. Jika belum dilatih, tidak boleh. Memberi buku saja tanpa dibekali guru yang paham Kurikulum 2013, tidak ada gunanya. Kurikulum ini tidak punya makna tanpa guru yang bisa menjelaskan,” kata Nuh seusai berkunjung ke Medan (Sumatera Utara) dan Langsa (Aceh), Kamis (4/7) malam.

Jika daerah atau sekolah tetap berminat untuk berpartisipasi melaksanakan Kurikulum 2013 pada tahun ini, lanjut Nuh, pihaknya bisa membantu menyediakan tenaga guru pelatih, yakni Instruktur Nasional atau Guru Inti, untuk mendampingi guru kelas atau guru mata pelajaran. Namun untuk penggandaan bukunya, harus diupayakan sendiri dengan alokasi anggaran dari pemerintah daerah atau sekolah.

”Kalau mau, masih ada waktu. Yang penting sebelum 15 Juli harus selesai. Bahkan paling lambat bisa sampai 21 Juli. Di minggu pertama sekolah, toh, juga belum efektif karena ada masa orientasi,” kata Nuh.

Hasil ujian

Sebelum mengikuti pelatihan, setiap guru mulai dari tingkat Instruktur Nasional hingga guru kelas/mata pelajaran harus menjalani tes sebelum dan setelah pelatihan. Hasil tes di tingkat Instruktur Nasional, yang terdiri dari guru, dosen, dan guru yang berpenglaman menjadi pelatih guru, masih kurang memuaskan. Dari standar minimal 75 poin yang ditetapkan, nilai rata-rata sebelum pelatihan hanya 53 poin. Nilai rata-rata setelah pelatihan naik, tetapi hanya 10 poin menjadi 63,9.

Hasil tes ini, menurut Kepala Badan Pengembangan SDM Kemdikbud Syawal Gultom, wajar karena masih banyak guru yang belum memahami konsep Kurikulum 2013 berikut dengan metode pembelajaran tematik integratif yang relatif masih baru bagi Indonesia.

Namun, menurut Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Utara Bambang Winarji, hasil tes baik sebelum maupun setelah pelatihan itu memprihatinkan karena jauh di bawah nilai rata-rata. Bahkan nilai rata-rata juga rendah pada aspek konsep metode pembelajaran yang seharusnya sudah dikuasai para guru. Apalagi mengingat tingkat Instruktur Nasional yang terdiri atas para guru berprestasi.

”Masih harus kerja keras, terutama nanti di guru kelas atau guru mata pelajaran,” ujarnya. (Sumber: JPNN)

About Admin

Apa adanya.... bukan adanya apa....

Posted on 7 Juli 2013, in HeadLine News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: