Pasing Grade Ketat, Siswa Berharap PPDB Zona Lokal

Sejumlah warga DKI dan luar DKI mengaku kesal dan bingung dengan system Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2013/2014. Pasalnya, nilai rata-rata UN para siswa berbeda jauh dibandingkan tahun lalu.

Ajun, warga Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan mengatakan, dirinya hendak mendaftarkan anaknya di SMP Negeri di Pondok Labu. “Ternyata passing grade sekarang tinggi-tinggi, saya pilih tiga sekolah, nggak ada yang keterima,” ujar karyawan swasta ini, Kamis (27/6).

Ajun mengatakan, putranya memilih SMPN 37, SMPN 86, dan SMPN 226. Ketiganya berada di Kecamatan Cilandak. “Anak saya lulusan SD 01 Pondok Labu, nilai UN nya rata-rata 7,15, saya sampai stress cari sekolah untuk anak, tiga-tiganya jadi ketat persaingannya,” ujar Ajun.

Menurutnya, tahun lalu, di SMPN 37 saja, rata-rata nilai UN dibawah 8 masih diterima. Namun tahun ini semua yang diterima memiliki nilai rata-rata diatas 8. Ia masih berharap dalam Zona lokal yang juga menerima 45 persen kapasitas bangku sekolah, anaknya bisa diterima.

”Mudah-mudahan saja masuk ni, tapi pasti ketat juga, di Pondok Labu warganya sudah banyak sekali, kalau masuk swasta mahal sekali, bisa belasan juta,” tuturnya.

Ia mengaku cukup berat menyekolahkan anaknya di SMP swasta. Menurutnya, salah satu sekolah swasta yang dinilainya berkualitas, menghabiskan dana yang tidak sedikit. Untuk formulir saja seharga Rp200 ribu dan uang pangkal Rp5 juta.

Ia menilai, seharusnya Pemprov DKI menghitung terlebih dulu berapa jumlah peserta didik di suatu Kelurahan atau Kecamatan, dengan rasio jumlah sekolah yang ada di wilayah tersebut.

“Kalau di Pondok Labu sekarang kan sudah padat penduduk, sementara jumlah sekolah tidak terlalu banyak, harusnya dihitung dulu, baru terapkan aturan,” ujarnya.

Toto Hindarto, warga Tanahbaru, Depok, mengaku kesal dengan kebijakan baru ini. Kedua anaknya tidak diterima di SMA Negeri dan SMP Negeri di Jakarta karena kebijakan PPDB baru.

“Anak saya tidak bisa masuk sekolah Negeri karena persaingannya jadi berat sekali, padahal Nilai UN rata-rata 8, ini karena kebijakan baru Jokowi,” ujar bapak tiga anak ini.

Ia menjelaskan, lantaran anaknya berasal dari sekolah di DKI juga, ia mengikuti zona umum, dimana alokasi 45 persen dari kapasitas sekolah terbuka untuk semua anak yang sekolah asalnya di DKI Jakarta.

“Anak saya memilih SMPN 131 Jagakarsa, karena masih dekat rumah, saya harus masuk di kuota ini dan tidak bisa masuk di zona local, karena domisili saya di Depok,” ujarnya.

Menurut Toto, anaknya tergeser oleh para pendaftar yang nilainya 8,5 ke atas. Bahkan, lanjutnya, passing grade dipatok rata-rata harus 9. Padahal, tiga tahun lalu hingga tahun ajaran lalu, rata-rata pendaftar hanya memiliki nilai UN rata-rata 7,75.

“Kakaknya lulusan SMP 131 mau daftar di SMAN 97 Jagakarsa juga nggak bisa, masalahnya sekolah itu jadi favorit karena ada si Fatin yang menang kompetisi X Factor RCTI, ada-ada saja,” tuturnya.
Ia mengaku terpaksa mencari sekolah swasta untuk anaknya. Namun ia belum mendapatkan sekolah yang cocok dengan harga yang terjangkau.

Sumber : Warta Kota

About Admin

Apa adanya.... bukan adanya apa....

Posted on 28 Juni 2013, in HeadLine News. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Selamat malam Pak?Begini Pak,tetangga saya anaknya mau masuk Smpn dki lewat jalur lokal,yang saya tanyakan tetangga saya anaknya tidak mendaftar pada jalur 1umum dan dia langsung kejalur 2lokal. Apakah bisa diterima dijalur lokal tersebut?terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: